Selasa, Agustus 3, 2021
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Fakta di Tapal Batas Indonesia-Malaysia: Garuda di Dadaku, Ringgit di Perutku, Makna LPG 12 Kilogram Bagi Nasionalisme

TARAKAN – Ada semboyan warga perbatasan Kalimantan Utara-Malaysia yang sebenarnya kurang nyaman terdengar, yakni “Garuda di dadaku, Ringgit di perutku”. Tapi, faktanya itulah kondisi riil terjadi, yakni warga perbatasan memiliki ketergatungan tinggi terhadap berbagai kebutuhan dari negeri jiran, salah satunya LPG (Liquefied Petroleum Gas). Selama ini, pasokan gas LPG 12 Kg semuanya dari Malaysia dan harganya mahal, yakni Rp1,4 juta.

Tidak hanya mahal tapi dalam satu tahun terakhir, warga Krayan (perbatasan Kaltara-Searawak, Malaysia) tidak lagi bisa mendapatkannya karena negeri Jiran menutup pintu perdagangan akibat pandemi COVID-19.

Namun, persoalan itu agaknya sudah teratasi ketika terlihat tabung – tabung LPG (Non Public Service Obligation (NPSO) Bright 12 kilogram sudah tersusun di apron bandara internasional Juata Tarakan, Senin (15/3) lalu, seperti diberitakan Antara.

Tabung-tabung itu siap dimasukan ke pesawat Cassa Pelita Air Service (PAS) untuk diterbangkan ke wilayah Krayan, Nunukan yang merupakan tapal batas Indonesia – Malaysia. Satu persatu tabung LPG berwarna pink tersebut dilakukan pemeriksaan untuk memastikan keamanan saat diangkut menggunakan pesawat.

Sebelum tiba di Tarakan, tabung LPG dibawa langsung dari Depo LPG di Balikpapan dengan menggunakan kapal laut selama lima hari perjalanan. Setelah tabung LPG diperiksa dan dipastikan tidak ada kebocoran saat penerbangan menuju bandara Yuvai Semaring, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 45 menit.

Untuk membawa LPG ke wilayah perbatasan tersebut bukan hal mudah, faktor cuaca sangat menentukan karena pesawat kecil ini, maksimal hanya membawa 45 tabung LPG 12 kilogram.

“Bersyukurlah, karena agak terbantu, apalagi di masa pandemi sudah satu tahun, LPG dari Malaysia tidak ada karena jalur perbatasan ditutup,” kata Seniwati (41), salah seorang warga Krayan di Long Bawan, saat acara Distribusi Perdana Tabung Gas LPG Bright 12 Kilogram di Krayan, Nunukan.

Dia mengungkapkan rasa syukurnya dengan adanya distribusi perdana LPG milik pemerintah yang masuk ke wilayahnya. Saat ini dapurnya sudah terpampang tabung gas berwarna pink. Apalagi baru pertama kalinya Seniwati beserta masyarakat Krayan tahu wujud dan warna dari LPG produksi Tanah Air.

Harga LPG produk Malaysia saat masa pandemi ditambah ongkos pikul seharga Rp1,4 juta. Sedangkan tabung LPG untuk isi ulangnya Rp250 ribu sampai Rp300 ribu, belum ditambah ongkos pikul.

Distribusi LPG produksi Pertamina NPSO 12 kilogram ke Krayan harganya Rp600 ribu dan harga isi ulangnya Rp190 ribu. Hal ini, tentunya menolong warga dalam berkegiatan di dapur untuk kebutuhan sehari – hari.

Terpisah, Sales Area Manager Retail Kaltim-Kaltara, Gusti Anggara mengatakan bahwa ini pendistribusian LPG Bright Gas ini merupakan wujud komitmen Pertamina sebagai BUMN yang bergerak di bidang energi untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

“Pertamina menanggung ongkos angkut LPG yang diterbangkan dari Tarakan ke Krayan begitu pula sebaliknya sekitar Rp1,8 juta per tabung. Namun, Pertamina memberikan harga yang sama seperti di perkotaan untuk LPG 12 kilogram bright gas ini untuk warga Krayan,” jelas Gusti.

Pertamina sebagai BUMN memiliki tugas menyalurkan energi sampai ke pelosok negeri, tak hanya BBM namun juga LPG yang diangkut menggunakan pesawat. Dengan melakukan pengecekan berkali – kali terkait keamanan tabung yang berisi LPG.

Harga jual tabung Rp600 ribu dan harganya sama yang dinikmati masyarakat Kaltara pada umumnya. Pertamina menanggung harga ongkos penerbangan LPG, agar tetap dapat dinikmati masyarakat.

Sedangkan Manager Communications, Relations & CSR Pertamina MOR VI Kalimantan Susanto August Satria menambahkan bahwa Pertamina tentu akan melakukan evaluasi mengenai distribusi tahap pertama untuk memastikan distribusi selanjutnya berlangsung dengan lancar. “Kami akan lakukan evaluasi berkelanjutan, mengenai kontinuitas tentunya Pertamina siap untuk memenuhi kebutuhan di Krayan,” kata Satria. (ant/red)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER