TBC ditandai dengan gejala seperti batuk berdahak selama dua minggu, mengeluarkan keringat tanpa melakukan aktivitas apa pun di malam hari, serta berat badan yang menurun.

Apabila merasakan gejala tersebut, diharapkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Hal ini dikarenakan penyakit TBC dapat menyerang siapa saja. Untuk keluarga penderita dianjurkan melakukan pemeriksaan diri ke puskesmas sebagai bentuk antisipasi tertularnya penyakit TBC.

Penyakit yang banyak menyerang orang dewasa dengan rentang umur 45 tahun sampai 54 tahun ini dirasa kian menurun pada masa pandemi Covid-19. Pada Case Detection Rate (CDR) tahun 2019, 64 persen masyarakat Kaltara menderita TBC, sementara itu CDR pada tahun 2020 berkurang menjadi 33 persen.

“Penyebaran bakteri TBC ini melalui udara, contohnya seperti saat penderita berbicara, batuk, dan bersin. Karena kondisi lagi pandemi, masyarakat jadi terbiasa dalam menggunakan masker. Hal ini menjadi penekan penurunan penularan TBC”, ujar Usman.

Disisi lain, Usman mengucapkan banyak terima kasih kepada jajaran Dinkes Provinsi Kaltara dan para layanan yang telah berjuang melakukan penemuan aktif di masyarakat. Usman juga meminta agar stigma buruk masyarakat kepada penderita TBC dapat dihilangkan.

Ketua TPP PKK Kaltara Rachmawati A. Paliwang, bersama dengan Wakil Ketua Bhayangkari Kaltara Nana Erwin menyerahkan KIE TBC kepada penderita TBC yang sudah sembuh dan masih dalam proses penyembuhan.

Penyakit yang banyak menyerang laki-laki ini dapat disembuhkan dengan meminum obat secara rutin dalam kurun waktu tertentu. Usman juga meminta agar penderita TBC tidak memikirkan masalah biaya pengobatan karena pemerintah telah memberikan pengobatan TB secara gratis di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kaltara.

Sementara itu, Maulana, pria asal Tanjung Palas yang telah mengikuti pengobatan TB gratis ini mengaku bahwa pihak pemerintah sangat membantu dan memberikan harapan baru bagi dirinya.

“Awalnya sesak nafas dan batuk yang mengeluarkan darah, harus diobati sekitar enam bulan. Saya ikuti aturan minum obat rutin dari rumah sakit. Akhirnya penyakit sesak pada pernafasan, batuk kering, dan batuk berdahak yang saya derita hilang hingga sekarang,” ujar pria lansia itu dengan senang.

Selain Maulana, Arfandi juga mengambil langkah yang sama dalam melakukan pengobatan TB gratis ini. Ia mengaku dirinya sempat merasa sangat terpukul ketika mengalami resistensi obat.

Resistensi obat yang ia alami menyebabkan bakteri TBC pada dirinya menjadi lebih kuat sehingga penggunaan obat-obatan menjadi tidak efektif. Bayangan kematian terus menghantui Arfandi, tidak dapat dipungkiri beberapa orang di sekitarnya meninggal dunia karena disebabkan oleh penyakit yang sama.

“Gejala saya sama dengan Pak Maulana, kalau malam berkeringat, nafsu makan dan berat badan juga berkurang. Waktu itu saya masih awam sekali dengan TB ini, jadi saya ke salah satu praktek yang ada di Sulawesi Tenggara. Di sana saya dikasih obat yang harganya sekitar Rp600.000, selama dua bulan dikonsumsi masih belum sembuh,” jelasnya.

“Ternyata setelah periksa ke sini (Tanjung Selor), saya dinyatakan salah meminum obat. Setelah itu saya dibawa ke Tarakan, di sana saya dikasih obat. Setelah satu minggu, saya balik lagi ke Tanjung Selor. Disuruh suntik injeksi selama dua bulan, itu rasanya luar biasa sekali. Efeknya luar biasa juga, bersyukur saya bisa sembuh seperti sekarang,” paparnya lagi.

Arfandi mengaku setelah dua bulan pengobatan ia telah negatif TBC, namun pengobatan TB gratis ini tetap harus diselesaikan. Pada tahun 2019 ia dinyatakan putus obat dan dapat sembuh seutuhnya. Ia meminta kepada seluruh penderita TB untuk semangat dalam menjalankan pengobatan dan jangan putus asa.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemberian Komunikasi Edukasi Informasi (KIE) TBC oleh Ketua PKK Provinsi Kaltara dan Ibu Wakapolda Provinsi Kaltara kepada pasien yang sudah dan masih dalam proses pengobatan. (saq/hms/red)